MEMBANGUN KEPUASAN PELANGGAN MELALUI PELAYANAN,
KUALITAS DAN NILAI

Makalah
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah:
Manajemen
pemasaran
Dosen
Pengampu :
JOKO
SETYONO
Disusun Oleh :
ABOE
BAKAR ACHMAD : 10390063
LINCAH CITRANINGTIAS : 10390120
AGISTA KENCANA SARI : 1039146
LINCAH CITRANINGTIAS : 10390120
AGISTA KENCANA SARI : 1039146
PROGRAM
STUDY KEUANGAN ISLAM
FAKULTAS
SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011
PENDAHULUAN
Keberadaan
suatu perusahaan ditentukan bukan oleh kualitas yang melekat pada produk atau
jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut, namun ditentukan oleh kemampuan
produk dan jasa tersebut dalam memenuhi kebutuhan customer.
Namun
kualitas tentu saja juga merupakan hal penting dari produk barang / Jasa yang
nantinya akan menentukan Kepuasan pelanggan.
Sampai
dengan jaman sekarang, pandangan produsen terhadap kualitas produk dan jasa
telah mengalami evolusi melalui empat jaman : jaman inspeksi, jaman
pengendalian kualitas secara statistik, jaman jaminan kualitas, dan jaman
manajemen kualitas secara stratejik.
“Menciptakan
Pelanggan” merupakan hal yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan. Tetapi
pelanggan masa kini menghadapi beraneka ragam pilihan produk dan merek, harga
dan pemasok.
Kita
percaya bahwa para pelanggan mengkira-kira, penawaran mana yang akan memberikan
nilai tertinggi. Para pelanggan menginginkan nilai maksimal, dengan dibatasi
oleh biaya pencarian serta pengetahuan, mobilitas, dan penghasilan yang
terbatas. Mereka membentuk suatu harapan akan nilai dan bertindak berdasarkan
hal itu.
Seorang
pelanggan yang merasa puas atas apa yang dikonsumsinya tentunya tidak akan
mencela atau menolak tetapi sebaliknya akan menjadi loyal terhadap perusahaan
tersebut untuk jangka waktu yang lama dan akan membeli lebih dan lebih banyak
lagi bila dibandingkan dengan pelanggan lainnya. Jadi seorang pelanggan yang
puas tidak hanya akan loyal tapi juga akan selalu melakukan pembelian kembali.
Kemudian
disini akan tentang bagaimana kualitas, pelayanan dan nilai ini dapat
memberikan kepuasan terhadap pelanggan yang ada. Dan juga bagaimana cara
menarik dan mempertahankan pelanggan tersebut.
PEMBAHASAN
Membangun Kepuasan Pelanggan
Melalui Kualitas, Pelayanan, dan Nilai
NILAI PELANGGAN
Para
pembeli beroperasi dengan berbagai kendala dan terkadang membuat pilihan berdasarkan
kepentingan pribadinya dari pada kepentingan perusahaan. Tetapi memaksimalkan
nilai yang diterima merupakan kerangka acuan bermanfaat yang berlaku dalam
banyak situasi dan memberikan banyak pengertian.
Ada
beberapa implikasinya :
1. Penjual
harus menentukan jumlah nilai pelanggan dan jumlah biaya pelanggan dari
penawaran masing-masing pesaingnyauntuk mengetahui bagaimana posisi
penawarannya.
2. Penjual
yang kalah dalam penawaran nilai nya mempunyai dua alternatif. Ia dapat mencoba
untuk meningkatkan total nilai pelanggan atau mengurangi total biaya pelanggan.
Alternatif
pertama memerlukan peningkatan atau penguatan produk, pelayanan, karyawan, dan
/ citra penawaran. Alternatif kedua mengharuskan pengurangan biaya pembeli.
Penjual dapat menurunkan harga, menyederhanakan proses pemesanan dan
penyerahan, atau menyerap sebagian risiko pembeli dengan menawarkan garansi.
Secara sederhana, nilai adalah
perbandingan antara keuntungan-keuntungan yang diterima dan biaya-biaya yang
dikeluarkan. Nilai yang ditimbulkan menjadi sangat personal, keistimewaan dan
keanehan, serta variasi-variasi yang luas dari suatu konsumen lainnya.
KEPUASAN PELANGGAN
Kepuasan
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan
antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan
harapn-harapannya.
Banyak
perusahaan berfokus pada kepuasan tinggi karena para pelanggan yang hanya
merasa puas mudah untuk berubah pikiran bila mendapat tawaran yang lebih baik.
Mereka yang amat puas lebih sukar untuk mengubah pilihannya. Kepuasan tinggi
atau kesenangan menciptakan kelekatan emosional terhadap merek, bukan hanya
preferensi rasional. Hasilnya adalah kesetiaan pelanggan yang tinggi.
Kemudian
bagaimana para pembeli membentuk harapan ? harapan mereka dipengaruhi oleh
pengalaman pembelian mereka sebelumnya, nasihat teman dan kolega, serta janji
dan informasi pemasar dan para pesaingnya. Jika para pemasar meningkatkan
harapan terlalu tinggi, para pembeli kemungkinan besar akan kecewa.
Beberapa
perusahaan paling berhasil di masa kini sedang meningkatkan harapan dan
memberikan kinerja yang memenuhinya.
Walaupun
perusahaan yang berfokus pada pelanggan berusaha mencapai kepuasan pelanggan
yang tinggi, sasaran utamanya bukanlah untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan. Pertama, perusahaan dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan dengan menurunkan harganya atau meningkatkan pelayanannya,
tetapi hasilnya mungkin adalah laba yang lebih rendah. Kedua, perusahaan mungkin mampu meningkatkan profitabilitasnya
dengan cara selain dari meningkatkan kepuasan. Ketiga, perusahaan mempunyai banyak pihak yang berkepentingan,
termasuk karyawan, penyalur, pemasok, dan pemegang saham. Mengeluarkan lebih
banyak biaya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan mungkin mengalihkan dana
yang seharusnya untuk meningkatkan kepuasan “mitranya”. Akhirnya, perusahaan
harus beroperasi dengan filosofi bahwa saja mencoba memberikan kepuasan
pelanggan yang tinggi asalkan juga dapat memberikan setidaknya tingkat kepuasan
yang dapat diterima oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan sesuai batasan
jumlah sumber dayanya.
Para
pelanggan menginginkan atau mengkira-kira, penawaran mana yang akan memberikan
nilai tertinggi. Tentu saja mereka menginginkan nilai maksimal, dengan dibatasi
oleh biaya pencarian serta pengetahuan, mobilitas, dan penghasilan yang
terbatas. Mereka membentuk suatu harapan akan nilai dan bertindak berdasarkan
hal itu. Kenyataan apakah suatu penawaran harapan akan nilai pelanggan
mempengaruhi kepuasan dan kemungkinan mereka untuk kembali membeli.
Hal – hal yang harus diperhatikan
dalam mengukur kepuasan pelanggan
Penyerahan
barang perusahaan perlu menyadari bahwa pelanggan beragam dalam cara mereka
mendefinisikan penyerahan barang yang baik. Hal itu dapat berarti penyerahan
yang lebih awal, tepat waktu, lengkap, dan seterusnya. Karena pelanggan menilai
kepuasan mereka berdasarkan unsur kinerja perusahaan. Perusahaan juga harus
menyadari bahwa dua pelanggan dapat melaporkan “kepuasan tinggi” dari sebab
yang berbeda. Salah satu mungkin selalu mudah dipuaskan dan yang lainnya
mungkin sukar disenangkan tetapi merasa
senang pada saat ini.
Perusahaan-perusahaan juga harus memperhatikan bahwa para manajer
dan staf penjualan dapat memanipulasi tingkat kepuasan pelanggan mereka. Mereka
dapat menjadi sangat ramah kepada para pelanggan hanya sebelum diadakannya
survei. Mereka juga dapat mencoba untuk mengeluarkan pelanggan yang tidak puas
dari survei.
Bahaya
lainnya adalah bahwa jika pelanggan mengetahui bahwa perusahaan akan berusaha
keras untuk menyenangkan pelanggan, beberapa pelanggan mungkin menunjukkan ketidakpuasan yang tinggi
(walupun sebenarnya mereka puas ) agar memperoleh lebih banyak kemudahan.
KUALITAS
Kualitas
dapat digambarkan sebagai suatu penelitian secara keseluruhan dari superioritas
atau dilihat dari sisi produk yang terbaik. Traditional quality model butuh
suatu modifikasi sederhana untuk memasukkan juga faktor keuangan, yang akan
melakukan evaluasi terhadap pelanggan atas apa yang dibeli dari penawaran
produk atau jasa suatu perusahaan, jadi akan dibandingkan apa yang pelanggan
dapat dari apa yang telah mereka bayarkan atau mengevaluasi manfaat yang
diperoleh dari sejumlah uang yang telah dikeluarkan oleh pelanggan tersebut.
Monroe
(1990) mengusulkan bahwa dari pada berfokus pada bagaimana cara meningkatkan
kepuasan pelanggan dengan memperbaiki kualitas, diusulkan untuk memperluas lagi
kepada apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pelanggan itu sendiri dan
menyajikannya dalam kualitas yang sesuai dengan yang dibutuhkan dan memenuhi
batas kesediaan pelanggan untuk membayar kepada customer, tapi lebih jauh lagi
kita harus berkosentrasi pada tingkat kepuasan yang harus diberikan kepada
pelanggan tersebut.
Yang
biasa digunakan dalam strategi nilai tambah adalah bahwa supplier biasanya
menambahkan keistimewaan dan ciri-ciri teknis atas suatu produk atau dengan
menambahkan dukungan servis pada produk atau jasa inti yang ditawarkan supaya
total value dari apa yang ditawarkan bisa meningkat. (Pattersen &Spreng,
1997)
Walaupun
demikian terjadi kenyataan bahwa suatu perusahaan justru menawarkan suatu yang
jauh dari apa yang sebenarnya diinginkan oleh pelanggan dari nilai tambah yang
ditawarkan justru menjadi sesuatu yang tidak ada artinya dengan apa yang
sebenarnya dibutuhkan oleh pelanggan itu sendiri.
Dengan
menawarkan berbagai nilai tambah yang tidak mengarah pada apa yang sebenarnya
dibutuhkan oleh customer justru tidak akan pernah memberi manfaat bagi
perusahaan dan hanya bisa menjadi suatu solusi jangka pendek saja.
Seorang
pelanggan baru, mungkin saja akan bisa diraih untuk mengkonsumsi produk atau
jasa dengan cara ini dan membuat market share perusahaan meningkat. Tapi hal
ini tidak akan bisa bertahan lama dimana akhirnya perusahaan akan mengalami
kesulitan untuk mempertahankan pelanggan seoerti itu untuk bisa menjadi
pelanggan jangka panjangnya.
PELAYANAN
Pelayanan
atau jasa (service) adalah semua bentuk aktifitas manusia yang tidak berujud
(intangible) yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pihak lain untuk
saling memuaskan melalui pertukaran secara bersamaan (insperability). Pelayanan
atau jasa bersifat tidak berujud (tangible), heterogen (bervariasi), diproduksi
dan dikonsumsi secara bersamaan (insperability) dan tidak dapat disimpan atau
tidak dapat busuk (perishability). Pelayanan pelanggan dilakukan pada intinya
bertujuan untuk memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sehingga pelanggan
merasakan kepuasan atas pelayanan yang diberikan (customer satisfaction).
Dalam
dunia bisnis yang penuh persaingan, sudah semestinya perusahaan yang mau bertahan
atau mau menang dalam kompetisi ini harus mengedepankan pelayanan pelanggan.
Seberapapun bagus produk yang dihasilkan, maka akan sia-sia jika tidak didukung
oleh pelayanan pelanggan yang baik.
Memberikan pelayanan agar
pelanggan puas ternyata tidak semudah yang dibayangkan, karena adanya persepsi
yang berbeda antara penyedia jasa dengan pengguna jasa.
Perbedaan persepsi ini disebut
dengan “gap” atau kesenjangan, sehingga pelayanan yang diberikan tidak akan
pernah sama dengan harapan atau keinginan pengguna jasa atau pelanggan. Oleh
karena itu penyedia jasa harus mengetahui apa yang diinginkan dan apa yang
diharapkan oleh pelanggan (customer expectation).
KESIMPULAN
Sebuah
konsep kunci dalam peran pemasaran dalam bisnis adalah kepuasan pelanggan dan
umpan balik. Informasi adalah dasar dari pelanggan memahami keinginan dan
kebutuhan dan itu adalah perusahaan – perusahaan dasar dari pelanggan memahami
keinginan dan kebutuhan dan itu adalah perusahaan – perusahaan sukses yang
membuat setiap usaha untuk menjamin kepuasan pelanggan mereka, dengan cerdik
dan tekun mengumpulkan informasi ini. Salah satu cara terbaik untuk mengetahui
apakah pelanggan puas adalah untuk mendapatkan umpan balik pelanggan.
Untuk banyak bisnis ini sebenarnya
penggunaan utama dari situs web mereka, dimana pelanggan dapat meninggalkan
komentar tak terbatas dan saran tentang produk, layanan dan pengalaman.
Didalamnya kebetulan bahwa keluhan pelanggan merupakan sumber yang sangat baik
dari umpan balik pelanggan. Memang banyak pelanggan sering merasa loyalitas
yang lebih besar setelah konflik telah diselesaikan daripada jika mereka tidak
pernah mengeluh sama sekali. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa layanan
pelanggan dan kepuasan memiliki peran penting dalam pemasaran. Memang kita juga
harus dapat melihat bahwa menjual pribadi juga memiliki peran penting dalam
pemasaran jika kita memperluas layanan metafora – penjualan pribadi sering
merupakan aspek kunci dari layanan tersebut, terutama untuk produk dengan besar
elemen layanan berwujud kepada mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Holbrook, M.B. (1994), “The nature of customer
value”, in Rust, R.T. and Oliver, R.L, Service Quality : New Directions in
Theory and Practice, Sage Publication. Thousand oaks, CA.
Kotler,
Philip. 1993. Manajemen Pemasaran Analisi, Perencanaan, Implementasi, dan
Pengendalian. Edisi 6. Jakarta : Erlangga
____________.
1991. Manajemen Pemasaran. Edisi Bahasa Indonesia.
Monroe, KB. (1998),
Pricing-Making Profitable Decisions, McGraw-Hill, New York, NY.
Mulyadi.
2000. Total Quality Management. Edisi 1. Yogyakarta : Aditya Media Yogyakarta
Paterson, P. And
Spreng, R. (1997), “Modeling the relationship between perceived value,
satisfaction and repurchase intentions in a business-to-business service
context ; and empirical examination”, International Journal of Service Industry
management, Vol 8 No. 5, pp. 414 – 34.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar