MENGANALISA INDUSTRI DAN PESAING
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Manajemen
Pemasaran
Dosen
Pengampu:
Joko
Setyono, S.E., Msi
Oleh:
|
|
|
Disusun oleh :
Charisah (10390106)
Ali Akbar Ayatuloh (10390134)
Bambiny de Andreyant ( 08390016)
PROGRAM KEUANGAN ISLAM
FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN KALIJAGA
2009
PENDAHULUAN
Analisis industri merupakan kombinasi antara ekonomi
industri dan strategi. Diawali dengan adanya tambahan atas teori organisasi
industri oleh Joe S. Bain (1950-an) yang menyatakan bahwa struktur industri
tidak hanya terbatas pada ukuran besarnya industri, tetapi juga ditentukan
dengan mobilitas hambatan masuk ke dalam industri. Selanjutnya berkembang teori
struktur industri yang berdasarkan pada premis bahwa perbedaan tingkat
keuntungan perusahaan merupakan fungsi kekuatan pasar yang didorong oleh
struktur inter-industri dan intra-industri. Kemudian, dalam bukunya yang
berjudul Competitive Strategy: Techniques for Analyzing Industries and
Competitors, Michael Porter (1980) melakukan integrasi model yang dikenal
dengan model Lima Kekuatan Bersaing Porter.
Sedangkan, analisis pesaing memusatkan perhatiannya pada
setiap perusahaan yang bersaing secara langsung dengan sebuah perusahaan.
Dengan kata lain sebuah perusahaan Perusahaan perlu memahami:
• Apa yang menggerakkan pesaing, seperti yang
ditunjukkan oleh tujuan-tujuan masa depannya.
• Apa yang sedang dilakukan oleh pesaing, seperti yang
diungkapkan oleh strateginya saat ini.
• Apa yang diyakini oleh pesaing tentang dirinya sendiri
dan tentang industri, seperti yang ditunjukkan oleh asumsi-asumsinya.
• Apa kemampuan perusahaan, seperti yang ditunjukkan
oleh kapabilitasnya.
PEMBAHASAN
Porter menyatakan bahwa kelima kekuatan bersaing dapat
mengembangkan strategi persaingan dengan mempengaruhi atau mengubah kekuatan
tersebut agar dapat memberikan situasi yang menguntungkan bagi perusahaan.
Ruang lingkup kelima kekuatan bersaing tersebut, antara lain:
1. Ancaman pendatang baru, yang dapat ditentukan dengan hambatan
masuk ke dalam industri, antara lain, hambatan harga, respon incumbent, biaya
yang tinggi, pengalaman incumbent dalam industri, keunggulan biaya,
differensiasi produk, akses distribusi, kebijakan pemerintah dan switching
cost.
2. Kekuatan tawar-menawar pemasok, yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain tingkat konsentrasi pasar, diversifikasi, switching cost,
organisasi pemasok dan pemerintah.
3. Kekuatan tawar-menawar pembeli, yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor, antara lain differensiasi, konsentrasi, kepentingan pembeli, tingkat
pendapatan, pilihan kualitas produk, akses informasi, dan switching cost.
4. Ancaman produk subtitusi, yang ditentukan oleh harga produk
subtitusi, switching cost, dan kualitas produk.
5. Persaingan di dalam industri, yang ditentukan oleh berbagai
faktor, yaitu pertumbuhan pasar, struktur biaya, hambatan keluar industri,
switching cost, pengalaman dalam industri, dan perbedaan strategi yang
diterapkan.
Langkah pertama untuk menerapkan model Lima Kekuatan
Bersaing Porter adalah mengumpulkan seluruh informasi untuk mengidentifikasi
karakteristik setiap kekuatan bersaing, sehingga diperoleh sumber utama
kekuatan persaingan. Selanjutnya dilakukan pengukuran besarnya pengaruh dari masing-masing
kekuatan bersaing dengan menggunakan peringkat 1 sampai 5. Angka 5
mengindikasikan kekuatan bersaing yang kuat sementara angka 1 mengindikasikan
kekuatan bersaing yang lemah.
Langkah kedua, melakukan penilaian dan evaluasi kelima
kekuatan bersaing terhadap kemampuan perusahaan sehingga dapat
mengindentifikasi kemampuan yang dapat mendukung perusahaan untuk memenangkan
persaingan.
Langkah ketiga, menganalisis strategi proaktif dengan
mengulangi dua langkah pertama untuk memahami pola evolusi industri dengan
menggunakan trend industri jangka panjang yang dapat dianalisis untuk
mengetahui apakah profitabilitas dalam industri berkelanjutan dan bagaiman
pengaruhnya terhadap posisi bersaing perusahaan. Hal-hal yang termasuk dalam
trend ini antara lain, regulasi dan pemerintah, trend sosial dan konsumen,
trend internasional, perekonomian dan teknologi.
Langkah selanjutnya, yaitu mengintegrasikan seluruh
analisis lingkungan dalam konteks strategi korporasi dengan menemukan
kesesuaian antara sumber daya dan kemampuan perusahaan, dan lingkungan
eksternal. Terdapat tiga jenis analisis strategis: menerapkan strategi reaktif
untuk melawan tindakan pesaing; strategi proaktif dengan mengubah kekuatan
bersaing; dan strategi proaktif mengubah satu atau keseluruhan kekuatan
bersaing secara eksplisit.
Pada dasarnya, struktur industri mempengaruhi strategi
yang dipilih perusahaan. Setiap kekuatan bersaing memberikan pengaruh terhadap
strategi dan peluang perusahaan utnuk mempertahankan keunggulan kompetitif.
Analisis Lingkungan Industri
Industri adalah sekelompok perusahaan yang memproduksi
dan menawarkan produk atau kelas produk
yang merupakan substitusi dekat satu sama lain. Industri tersebut digolongkan
menurut jumlah penjual, tingkat diferensiasi produk, ada atau tidaknya hambatan
masuk, hambatan mobilitas, hambatan keluar, struktur biaya, tingkat integrasi
vertical, dan tingkat globalisasi.
ANALISIS
Teknik Analisis Pesaing
Untuk menganilis industri dan persaingan, ada empat cara
yang harus dilakukan:
1. Definisikan pasar sasaran (target market).
Mendefinisikan pasar sasaran akan memudahkan perusahaan untuk mengetahui produk
atau jasa mana saja yang membidik sasaran yang sama.
2. Identifikasi pesaing langsung. Pesaing langsung
adalah perusahaan yang memberikan produk ataupun jasa yang relatif serupa
dengan target market yang kurang lebih sama. Identifikasi pesaing langsung akan
membantu untuk melihat peta persaingan, posisi perusahaan dibanding pesaing,
dan apa yang harus dilakukan untuk memenangkan persaingan.
3. Ketahui kondisi persaingan. Peta persaingan bisa
dilihat dengan menggunakan framework Porter Five Forces. Dari situ bisa dilihat
daya tarik persaingannya apakah sudah ketat ataupun belum.
4. Penilaian keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif
adalah kemampuan utama yang dimiliki oleh perusahaan yang diyakini sebagai modal
untuk memenangkan persaingan.
Strategi Bersaing
Michael Porter membagi strategi bersaing menjadi 3
strategi umum:
1. Differensiasi, adalah strategi memberikan penawaran yang berbeda
dibandingkan penawaran yang diberikan oleh kompetitor. Strategi differensiasi
mengisyaratkan perusahaan mempunyai jasa atau produk yang mempunyai kualitas
ataupun fungsi yang bisa membedakan dirinya dengan pesaing.
2. Keunggulan biaya (low cost), adalah strategi mengefisienkan
seluruh biaya produksi sehingga menghasilkan produk atau jasa yang bisa dijual
lebih murah dibandingkan pesaing. Strategi harga murah ini fokusnya pada harga,
jadi biasanya produsen tidak terlalu perduli dengan berbagai faktor pendukung
dari produk ataupun harga yang penting bisa menjual produk atau jasa dengan
harga murah kepada konsumen. Warung Tegal misalnya mengandalkan strategi harga.
Mereka tidak perduli dengan kenyamanan orang ketika makan, bahkan juga dengan
kebersihan, yang penting bisa menawarkan menu makanan lengkap dengan harga yang
sangat bersaing.
3. Fokus, adalah strategi menggarap satu target market khusus.
Strategi fokus biasanya dilakukan untuk produk ataupun jasa yang memang
mempunyai karakteristik khusus. Beberapa produk misalnya hanya fokus
ditargetkan untuk kaum muslim sehingga semua produknya memberikan benefit dan
fungsi yang disesuaikan dengan aturan Islam. Produk yang fokus pada target
market kaum muslim biasanya selalu mensyaratkan label halal, tanpa riba, dan
berbagai aturan lain yang disesuaikan dengan ketentuan Islam.
KESIMPULAN
Untuk bisa bertahan dalam persaingan, perusahaan harus
mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage) dibandingkan dengan
kompetitornya. Keunggulan bersaing akan menjadi senjata untuk menaklukkan pasar
dan kompetisi. Untuk membangun keunggulan bersaing, perusahaan bisa melakukan
beberapa langkah:
1. Mencari sumber-sumber keunggulan, misalnya keterampilan yang
prima, sumber daya yang berkualitas, dan lain-lain.
2. Mencari keunggulan posisi dibanding pesaing, dengan
mengefisienkan biaya produksi dan memberikan nilai tambah kepada konsumen.
3. Menghasilkan performa yang prima, dengan melihat kepuasan dan
loyalitas pelanggan, pangsa pasar, dan juga kemampulabaan (profitabilty) dari
produk ataupun jasa yang dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA
- ab-fisip-upnyk.com/.../BAB%203%20MANAJEMEN%20STRATEGIS.pdf
- aliciakomputer.blogspot.com/.../analisis-industri-dan-persaingan.html
- Kotler, Philip, dan Keler, Kevin Lane. 2007. Menejemen Pemasaran edisis 12. Indonesia: PT MACANAN JAYA CEMERLANG